artikel tafsir tarbawi konsep sistem khilafah dalam al-qur'an
Tafsir Tarbawi:
Konsep Sistem
Khilafah dan Demokrasi dalam Al-Qur’an
Muhammad Imam
Ghozali Mamonto
Mahasiswa Pendidian Bahasa Arab IAIN Sultan Amai Gorontalo
E-mail: ghozali.mamonto10@gmail.com
Abstract
This article aims to explain the concepts of khilafah and
democracy in the Qur'an, the concept of a caliphate offered by cleric or
scholars and related hadiths. Data collection is done by taking from existing
journals, and the verses of the Qur'an are analyzed based on the mufrodat and
literature. The conclusion that can be drawn from this writing according to the
author is Allah Almighty sent down the Qur'an for guide humans in playing their
role as caliphs on earth in building civilization. Political and governance
issues are guided by the Qur'an so that the lives of humankind are not chaotic
and walk according to law of Allah.
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan konsep khilafah
dan demokrasi dalam Al-qur’an, konsep negara khilafah yang ditawarkan para
ulama atau ahli serta hadis-hadis terkait. Pengumpulan data dilakukan dengan
cara mengambil dari jurnal yang ada, dan ayat al-qur’an di analisis berdasarkan
mufrodat dan sastranya. Kesimpulan yang bisa ditarik dari tulisan ini menurut
penulis adalah Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk membimbing manusia dalam
memainkan perannya sebagai khalifah di muka bumi dalam membangun peradaban.
Persoalan politik dan kepemerintahan dibimbing Al-Qur’an agar kehidupan umat
manusia tidak kacau dan berjalan teratur sesuai hukum Allah swt.
Kata kunci: Khilafah, Demokrasi, dan Al-Qur’an.
Pendahuluan
Pembahasan
A. Ayat yang
dibahas
Allah swt. Tuhan yang maha bijaksana lagi maha adil telah
memberikan petunjuk dan arahan untuk umat manusia sebagai khalifah dimuka bumi
dalam mengurus kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan syariat dan
hukum Allah swt. supaya menjadi kebudayaan yang Baldatun Toyibatun wa Rabbun
Ghafur. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah: 48 dan QS. Shad: 26.
Sebagai berikut:
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ ﲀﲁ ﲂ ﲃ ﲄ ﲅ ﲆ ﲇ ﲈﱠ المائدة: ٤٨
Terjemahan:
“maka putuskanlah
perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang
kepadamu ...” (Al-Ma’idah: 48)
ﭧﭐﭨﭐﱡﭐ ﳈ ﳉ ﳊ ﳋ ﳌ ﳍ ﳎ ﳏ ﳐ ﳑ ﳒ ﳓ ﳔ ﳕ ﳖ ﳗ ﳘﳙ ﱠ ص: ٢٦
Terjemahan:
“hai
Daud, sungguh kami telah menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah
keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu, karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah
...” (Shad: 26)
B. Analisis
Mufrodat
I. Al-Ma’idah:
48
|
I’rob
|
Makna kebahasaan
|
terjemah
|
Mufrodat
|
|
الفاء حرف. و(احكم) فعل أمر مبني على السكون
|
Fi’il amr
|
maka putuskanlah perkara
|
ﱼ
|
|
(بين) ظرف مكان منصوب بالفتحة متعلق ب(احكم). وهو مضاف و(هم)
ضمير متصل في محل جر مضاف إليه.
|
Bayna huruf, hum dhomir
|
antara mereka
|
ﱽ
|
|
الباء حرف جر. و(ما) اسم موصول بمعن
"الذى" في محل جر بالباء
|
Huruf istifham
|
Menurut apa
|
ﱾ
|
|
فعل ماض مبني على الفتحة
|
Fi’il madhi
|
yang diturunkan
|
ﱿ
|
|
لفظ الجلالة فاعل مرفوع بالضمة، والجملة صلة
الموصول
|
lafadz jalalah
|
Allah
|
ﲀ
|
|
الواو عاطفة، و(لا) حرف نهي يجزم المضارع
|
Waw huruf ma’ani, Lam harfun nahi
|
Dan jangan
|
ﲂ
|
|
فعل مضارع مجزوم
|
Fi’il mudhari
|
mengikuti
|
ﲃ
|
|
(أهوء) مفعول به منصوب وعلامة نصبه الفتحة، وهو مضاف و(هم) ضمير
متصل في محل جر مضاف إليه
|
Ahwa jama’ taksir, Hum dhomir
|
Hawa nafsu mereka
|
ﲄ
|
|
عن حرف، (ما) إسم موصل، (جاء) فعل ماضي مبني
على الفتحة، (ك) مفعول به
|
Amma huruf, ja’aka fi’il madhi dan dhomir
|
dengan meninggalkan yang telah datang kepadamu
|
ﲅ ﲆ
|
|
من حرف جر، الحق إسم مجرور
|
Min huruf jar, al-haq isim mufrad
|
(yaitu) kebenaran
|
ﲇ ﲈ
|
II. Shad: 26
|
I’rob
|
Makna bahasa
|
terjemah
|
mufrodat
|
|
منادى مبني على الضم في محل نصب
|
Ya’ huruf nida’, daud isim alam.
|
Hai Daud
|
ﳈ
|
|
(إن) والضمير (نا) اسمها في محل نصب
|
Huruf taukid
|
Sunnguh
|
ﳉ
|
|
(جعلن) جملت في محل رفع خبر (إن)، وجملت (إن) جواب النداء،
والكاف ضمير متصل مفعول أول
|
Fi’il madhi
|
Kami telah menjadikanmu
|
ﳊ
|
|
مفعول به ثان منصوب يالفتحة
|
Isim alam mufrad
|
Khalifah
|
ﳋ
|
|
حرف جر مبنس على السكون
|
Huruf jar
|
Di
|
ﳌ
|
|
اسم مجرور بالكسرة
|
Isim mufrad
|
Bumi
|
ﳍ
|
|
جملة معطوفة بالفاء على جواب النداء
|
Fi’il amr
|
Maka berilah keputusan
|
ﳎ
|
|
ظرف منصوب بالفتحة متعلق بالفعل (احكم)
|
zorof
|
antara
|
ﳏ
|
|
مضاف إليه مجرور وعلامة جره الكسرة
|
Isim alam ma’rifah mufrad
|
Manusia
|
ﳐ
|
|
جار ومجرور حال من فاعل (احكم)
|
Ba’ huruf jar, al-haq isim ma’rifah mufrad
|
Dengan adil
|
ﳑ
|
|
جملة معطوفة بالواو على (احكم)
|
fi’il nahi
|
Dan jangan Mengikuti
|
ﳒ ﳓ ِ
|
|
مفعول به منصوب بالفتحة المقدرة للتذر
|
Isim ma’rifah mufrad
|
Hawa nafsu
|
ﳔ
|
|
الفاء للسببية، و(يضل) فعل مضارع منصو بـ(ان) مضمرة
وجوبا، وفاعله "هو"، والكاف مفعول به تعود على (الهوى)
|
Fi’il mudhari
|
Menyesatkan engkau
|
ﳕ
|
|
حرف جر
|
Huruf jar
|
Dari
|
ﳖ
|
|
اسم مجرور بالكسرة، والجار والمجرور متعلق
بـ(يضل)
|
Isim mufrad
|
Jalan
|
ﳗ
|
|
لفظ الجلالة مضاف إليه
|
Lafadz jalalah
|
Allah
|
ﳘﳙ
|
C. Asbabun Nuzul
·
Al-ma’idah: 48
Menurut M. Quraish Shihab,
setelah berbicara kitab taurat dan kitab injil, QS. Al-Ma’idah:48 kemudian
berbicara tentang Al-qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Ayat ini
turun setelah surah al-mumtahanah, tepatnya pada peristiwa perdamaian
hudaibiyah, perdamaian antara kaum muslimin dengan suku quraisy. Salah satu
persyaratan perdamaian adalah semua suku diberi pilihan antara mengikuti nabi
atau orang quraisy sesuai kehendak mereka. Dikisahkan bahwa ayat ini turun
kepada nabi SAW. Untuk memutuskan perkara peradilan, yang diajukan oleh ahli
kitab dan non-muslim yang meminta arbitrase kepada nabi agar diputuskan
berdasarkan al-qur’an. Dengan diturunkannya ayat tersebut, nabi SAW.
Menjelaskan keragaman syariat yang diturunkan Allah swt. kepada masing-masing
umat sesuai kondisi dan situasi yang berbeda, sedangkan pada masa nabi Muhammad
saw. Allah swt. menetapkan syariat berdasarkan al-qur’an.[1]
D. Hadis
Terkait
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ
مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ
عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ
رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ
وَالْعَبْدُ رَاعٍ
عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِه
Ibn
umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang
adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya.
Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang
dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya.
Seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal
tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang
bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang
dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan
jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (HR. Bukhari -
Muslim).
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ
فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ
النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ قَالَ
وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ
أَبِي سَعِيدٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Rasulullah
saw bersabda: sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan yang paling dekat
kedudukannya di sisi Allah adalah seorang
pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah dan sangat jauh dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim. (HR. Turmudzi)
E. Pendapar Ulama’/Ahli
Al
Washliyah mengatakan Demokrasi diintepretasikan di Indonesia adalah sebuah
teori dan undang-undang yang dibuat mengacu kepada wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)
yang bertujuan agar interpretasi wahyu dalam memaknai dan menjalankan roda 4
pilar dan nasionalis di Indonesia khususnya, tidak liar yang menyebabkan bangsa
ini terus dirundung mala petaka konflik berkepanjangan yang akan menyebabkan
NKRI ini hancur dan terbelah.[2]
Prof. Dr.
Syeikh Said Thanthawi (Guru besar Al Azhar Mesir) mengatakan : “Negara Islam
itu tidak ada, yang ada adalah negara Islami, artinya apapun bentuk negara
tersebut selagi undang-undang negaranya tidak bertentangan dengan hukum Islam,
maka itulah yang dikatakan dengan negara yang Islami (yang bersifat Islam)”.[3]
Hafidz Abdurrahman Ketua DPP HTI (Mas'ul
'Am HTI 2004-2010) mengatakan bahwa Setidaknya ada beberapa alasan kenapa
menegakkan Khilafah itu Wajib: “Pertama, karena menegakkan Khilafah hukumnya
wajib, bahkan bisa disebut sebagai kewajiban paling agung (a’zham wâjibâti
ad-dîn). Kewajiban ini telah dinyatakan dengan jelas dalam al-Quran, Al-Hadits.
Kedua, karena Khilafah adalah penjaga (hâris) Islam dan umatnya. Tanpanya, kata
Imam al-Ghazali, Islam dan umatnya akan lenyap. Inilah yang dilukiskan Nabi
saw. bahwa imam/khalifah itu sebagai junnah (perisai). Karenanya, ulama kaum Muslim,
baik Syiah, Sunni, Mu’tazilah maupun Khawarij, telah sepakat atas kewajiban
tersebut. Jadi, sangat logis jika persoalan ini dinyatakan sebagai perkara
ma„lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah. Ketiga, selain fakta sejarah, kenyataan
empirik saat ini juga membuktikan urgensi Khilafah dalam membela kepentingan
Islam dan kaum Muslim. Saat Islam dicap terorisme, siapa yang membela? Nggak
ada. Saat kaum Muslim dinodai kehormatannya, negeri mereka dijajah, kekayaan
mereka dijarah, siapa yang membela dan mempertahankannya? Nggak ada. Bandingkan
keadaannya dengan saat Khilafah masih ada.”[4]
Sistem pemerintahan Khilafah
bukanlah syariat melainkan hanyalah pilihan, yang mana ketika itu sistem
pemerintahan yang populer dizamannya adalah kerajaan kesultanan. Tentu Islam tidak
ingin di cap sebagai pencontoh atau peniru, walaupun pada hakikatnya tetap saja
dinasti-dinasti yang ada sistem pemerintahannya sama dengan yang lainnya bahkan
mungkin lebih extrim.[5]
F. kandungan Makna
·
Al-Ma’idah: 48
Firman-Nya, (ﱼ ﱽ
ﱾ ﱿ ﲀﲁ) ‘maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.’ Maksudnya hai Muhammad, berikanlah keputusan
diantara ummat manusia, baik bangsa Arab maupun non-Arab, yang buta huruf
maupun yang pandai membaca, menurut apa yang diturunkan Allah swt. kepadamu didalam
kitab yang agung ini, dan menurut apa yang Allah tetapkan bagimu berupa hukum
bagi para nabi sebelumnya, yang belum dinasakh di dalam syariatmu. Demikianlah
makna yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir.[6]
Firman-Nya, (ﲂ ﲃ ﲄ )
‘dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.’ Yaitu, pandangan-pandangan
mereka yang telah mereka sepakati, dan karenanya mereka meninggalkan apa yang
diturunkan Allah swt. kepada Rasul-rasul-Nya. Oleh kaena itu Allah swt.
berfirman:
ﲂ
ﲃ ﲄ ﲅ ﲆ
ﲇ ﲈ)) ‘dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.’ Maksudnya, janganlah engkau berpaling dari
kebenaran yang telah diperintahkan Allah kepadamu, menuju kepada hawa nafsu
orang-orang bodoh lagi celaka tersebut.[7]
·
Shad: 26.
Ini adalah wasiat dari Allah kepada para penguasa untuk
menerapkan hukum kepada manusia sesuai dengan kebenaran yang diturunkan dari
sisi Allah swt. serta tidak berpaling darinya, hingga mereka sesat dari jalan
Allah. Sesungguhnya Allah mengancam orang yang sesat dari jalan-Nya. Seta
melupakan hari hisab dengan ancaman yang keras dan azab yang pedih.[8]
G. Pesan
Pendidikan
Kedua ayat diatas secara redaksional
memberikan instruksi kepada setiap pemimpin/pemerintah di dalam memutuskan setiap
persoalan umat agar tidak menuruti hawa nafsu, berlaku adil, dan senantiasa
berpedoman pada kebenaran yang diwahyukan Allah swt. yaitu al-qur’an dan sunnah-sunnah
nabi-Nya
Kesimpulan
Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk membimbing manusia
dalam memainkan perannya sebagai khalifah di muka bumi dalam membangun peradaban.
Persoalan politik dan kepemerintahan pun dibimbing Al-Qur’an agar kehidupan
umat manusia tidak kacau dan berjalan teratur sesuai hukum Allah.
Daftar Pustaka
Ishaq Al-Seikhan, Abdullah, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 3 Juz.
Tanjung, indra,
“Studi Komparative Pendirian Negara Khilafah di Indonesia”, Jurnal
Penelitian Medan Agama Vol. 9, No. 1, 2018,
[1]
http://redaksiindonesia.com/read/tafsir-surat-al-maidah-ayat-48-bukti-allah-swt-menghendaki-keragaman.html. Diakses tanggal 23 maret 2020.
[6]
DR. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Seikhan, Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 3 Juz 6, h. 101
Komentar
Posting Komentar